Mundurnya Antam membuka peluang Pemda dan Multi Capital menguasai saham divestasi Newmont.
|
|
Konsentrator Batu Hijau, Sumbawa, milik PT Newmont Nusa Tenggara (Newmont ) |
|
VIVAnews - Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara masih mengupayakan PT Aneka Tambang Tbk turut membeli saham PT Newmont Nusa Tenggara. Padahal pada 18 November kemarin, secara tegas Antam telah menolak pembelian saham Newmont melalui konsorsium Pemda Nusa Tenggara Barat.
Mundurnya Antam telah membuka jalan kepada Pemda Nusa Tenggara Barat dan PT Multi Capital Industries, anak usaha PT Bumi Resources Tbk, menguasai 14 persen saham divestasi 2008-2009 senilai US$ 493 juta.
"Hari ini saya bertemu dengan Menko Perekonomian, dan kami akan membicarakan masalah ini," kata Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar di Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi, Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis 19 November 2009.
Mustafa mengatakan, Antam dan Pemda NTB tidak sepakat masalah pembagian saham dalam konsorsium itu. Keinginan Antam, Antam menguasai 50 persen, sedangkan Pemda NTB dan Multi Capital 50 persen.
Namun, keinginan Pemda berlainan. Pemda selaku pemimpin konsorsium meminta Antam dan Multi Capital masing-masing 37,5 persen, dan sisanya 25 persen untuk Pemda NTB. "Ternyata tidak ada titik temu," katanya.
Padahal, Kementerian BUMN ingin sekali Antam masuk pada perusahaan tambang emas itu. Bahkan, Kementerian menyatakan kesiapan dana untuk akuisisi itu. "Saya sebagai pemegang saham Antam tentu sangat mendambakan supaya itu jadi," ujar Mustafa.
Sebelumnya Pemda dan Multi Capital melalui PT Multi Daerah Bersaing telah mengambilalih 10 persen saham divestasi 2006-2007 senilai US$ 391 juta. Transaksi ini baru kelar 12 November lalu.
Newmont merupakan perusahaan tambang emas dan tembaga yang memiliki konsesi Lapangan Batu Hijau, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Pada akhir 2004 cadangan tembaga di Batu Hijau mencapai 6,3 miliar pon, dan emas 7,2 juta ons. Cadangan tersebut secara ekonomis layak ditambang hingga 2027.
hadi.suprapto@vivanews.com
• VIVAnews