Defisit gula akhir tahun ini diprediksi mencapai 500 ribu ton.
|
|
(corbis.com) |
|
VIVAnews - Harga gula pada awal tahun depan diperkirakan akan menembus Rp 15 ribu per kg. Lonjakan harga ini bisa terjadi jika pemerintah tidak segera mencari solusi atas defisit gula yang menghantui Indonesia enam bulan pertama di tahun 2010.
Pasalnya, musim giling akan berakhir di penghujung tahun dan menginjak awal tahun depan hingga enam bulan setelahnya, stok gula harus mencukupi 1 juta hingga 1,2 juta ton. Padahal, pemerintah telah melansir stok akhir tahun hanya berkisar 500 ribu sehingga kekurangan stok mencapai 500-700 ribu ton.
"Kalau dibiarkan terus begini (stok gula defisit) maka harga gula tahun depan bisa Rp 15 ribu," kata Ketua Umum Asosiasi Pedagang Gula dan Terigu Indonesia (Apegti) Natsir Mansyur.
Harga gula, menurutnya, dipastikan akan naik kecuali stok sebanyak 1,2 juta ton bisa diamankan pemerintah. "Produksi gula tidak sama dengan produksi sepatu yang selama ada pesanan bisa diproduksi, karena untuk gula harus memperhatikan stok dunia dan siklus tanam, panen, dan giling," kata Natsir.
Defisit gula sebanyak 500 ribu ton, menurut Natsir, terjadi karena diperkirakan hingga akhir tahun ini stok akhir di PTPN dan RNI hanya 200 ribu ton dan di petani hanya 300 ribu ton.
"Padahal, konsumsi gula nasional setiap bulan mencapai 200 hingga 250 ribu ton. Lalu dapat dari mana kekurangannya?" ujar dia.
Natsir memastikan, satu-satunya jalan hanya impor gula kristal putih (gula konsumsi), dan bukan gula mentah (raw sugar). "Kalau raw sugar, tidak ada waktu lagi untuk produksi. Sama seperti kesalahan Bayu (waktu itu Deputi Menko Perekonomian Bidang Kelautan dan Pertanian Bayu Krishnamurti) yang memberikan alokasi impor 180 ribu ton raw sugar untuk PTPN," kata dia.
Kebijakan impor raw sugar tersebut, dinilainya, terlambat. Akibatnya, hingga saat ini tidak juga terealisasi impornya.
• VIVAnews