Mereka harus lembur menghitung APBN yang laporannya ditutup pukul 00.00, 1 Januari 2010.
|
|
Menkeu Sri Mulyani dan Sekjen Depkeu Mulia Nasution (Widodo S Jusuf) |
|
VIVAnews - Kala sebagian besar orang menantikan pergantian tahun dengan perayaan, Pegawai Departemen Keuangan malah sedang sibuk bekerja. Pegawai Depkeu harus lembur untuk menghitung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun yang akan habis sebentar lagi.
Malam ini hingga besok pagi, para pegawai Departemen Keuangan memang harus menghitung penerimaan negara. Seperti diketahui bahwa tahun anggaran dibuka mulai tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember.
Untuk itulah malam ini, semua pejabat berkumpul di Departemen Keuangan memantau bagaimana realisasi seluruh penerimaan negara dan belanja Kementerian dan Lembaga. Menurut Direktur Jenderal Pajak, Mochammad Tjiptardjo, setidaknya mereka harus memantau laporan penerimaan dari 31 Kantor Wilayah dari seluruh Indonesia.
"Kami terima laporan sampai dengan malam 31 Desember pukul 00.00 WIB," ujarnya, Kamis 31 Desember 2009.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan penghitungan penerimaan dan belanja Kementerian/Lembaga diperkirakan selesai sampai pukul 01.00 WIB. "Saya tahu saya juga ingin pulang, tapi kami harus menyelesaikan perhitungan realisasi APBN 2009," ujar Sri Mulyani.
Dalam perhitungan ini, seluruh pejabat Departemen Keuangan, berada di Aula Prijadi Praptosuhardjo Departemen Keuangan. Pantauan VIVAnews di sekitar kantor Departemen Keuangan, memang mobil-mobil dinas masih berderet. Sebagian keramaian perayaan tahun baru terlihat antara lain dari para pegawai yang keluar ruangan menonton letupan kembang api di angkasa.
Sementara itu laporan sementara realisasi APBN 2009, menurut Menkeu Sri Mulyani, defisit anggaran 2009 diperkirakan 2,2 persen atau Rp 119 triliun. Tetapi, estimasi ini masih terus bergerak plus minus Rp 5-7 triliun. "Kami masih pelajari dari sisi penerimaan dan belanja," kata Menkeu.
Sedangkan dari sisi penerimaan negara baru mencapai 92 persen atau Rp 490 triliun dari target yang hampir Rp 530 triliun. Untuk belanja modal, diperkirakan bisa terserap 97 persen. Namun, perkiraan Menkeu akan sedikit lebih rendah, yakni 93-94 persen. Untuk belanja barang diperkirakan sebesar 84 persen.
• VIVAnews