|
VIVAnews - George Soros, pialang dunia datang ke Jakarta hari ini. Dia dijadwalkan menemui Wakil Presiden Boediono pukul 9.00 WIB di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Rabu 10 Februari 2010.
Juru Bicara wakil Presiden Boediono, Yopie Hidayat, mengatakan tidak ada agenda khusus terkait kedatangan Soros ini. "Hanya courtesy call (kunjungan ramah-tamah) saja," kata Yopie.
Lantas, siapa sesungguhnya George Soros?
Dia adalah salah satu orang kaya Amerika Serikat. Menurut majalah Forbes edisi
September 2009, Soros termasuk dalam urutan nomor ke-15 orang kaya Amerika dengan total kekayaan US$ 13 miliar. Dia merupakan orang terkaya papan atas Amerika mewakili hedge fund.
Peringkat Soros berada di bawah para taipan lainnya. Nomor satu adalah Bill Gates, pendiri Microsoft dengan kekayaan US$ 50 miliar. Dia juga masih di bawah Michael Blomberg pemilik Blomberg dengan kekayaan US$ 17,5 miliar dan Sergey Brin dan Larry Page, pemilik Google yang masing-masing punya kekayaan US$ 15,3 miliar.
Semula Soros dikenal sebagai hedge fund manager atau pengelola dana investasi jangka pendek. Namun, pria yang kini berusia 79 tahun itu juga dikenal sebagai filantropis dan pendiri Open Society Institute. Pada Agustus dia menyumbangkan US$ 35 juta untuk membantu pemerintah New York membiayai sekolah bagi 850 ribu siswa kurang mampu.
Dia juga mendonasikan sekitar US$ 100 juta kepada negara-negara yang terkena resesi di Eropa Tengah. Bahkan, sejak 1979, dia sudah menyumbang US$ 7 miliar melalui Open Society Institute.
Selamat dari kepungan Nazi di Hungaria, Soros memperoleh beasiswa di London School of Economics di Inggris.
Dia kemudian, mendirikan Quantum Fund pada 1969. Bersama Stanley Druckenmiller pernah menjatuhkan mata uang Inggris, Poundsterling pada 1992 sehingga dijuluki "Pria Yang Menghancurkan Pound" (The Man Who Broke the Pound). Dia untung US$ 1 miliar sehari ketika Bank of England menghentikan kebijakan nilai tukar tetap.
Dia juga disebut-sebut berada dibalik krisis finansial Asia pada 1998, dimana para hedge fund menyerang sejumlah mata uang Asia, termasuk rupiah.
Sekarang, dia mengelola sekumpulan "telur baru" melalui Quantum Endowment Fund. Total asetnya US$ 24 miliar.
heri.susanto@vivanews.com
• VIVAnews