Dialog Kadin dengan Capres Jusuf Kalla
Kalla: Jangan Percaya Pada Teori Moneteristik
Teori itu tidak selamanya benar. Bunga bank bisa ditekan serendah mungkin.
Senin, 18 Mei 2009, 17:54 WIB
Hadi Suprapto, Elly Setyo Rini, Agus Dwi Darmawan
Jusuf Kalla Dialog dengan Kadin (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Dialog antara Kadin dengan calon presiden yang diusung Golkar dan Hanura, Jusuf Kalla, juga membahas soal suku bunga bank. Ini amat penting, sebab suku bunga ini menjadi salah satu penentu menyala tidaknya ekonomi sektor riil. Suku bunga tinggi jelas akan mencekik dunia usaha.

Jusuf Kalla menegaskan bahwa selama ini ada keyakinan kalau suku bunga tidak bisa ditekan. Teori ini, kata Kalla, dipercaya betul oleh kalangan moneteristik. Jika keyakinan kaum ini, juga menjadi keyakinan pemerintah maka sektor rill bakal tidur terus.

Itu sebabnya Kalla menegaskan bahwa pemerintah seharusnya tidak terlalu bergantung dengan teori ekonomi moneter.  "Jangan terlalu percaya teori moneteristik yang mengatakan bahwa bunga bank tidak bisa ditekan," kata Kalla dalam Dialog "Presiden Pilihan" di Djakarta Theater, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin 18 Mei 2009.

Bertahun-tahun menjadi pengusaha  memberi Kalla pelajaran bahwa teori itu tidak selamanya benar.  Sebab, Kalla melanjutkan, "Suku bunga sesungguhnya  bisa ditekan serendah mungkin."

Dengan adanya suku bunga yang rendah, industri dalam negeri bisa bersaing dengan baik, terutama dengan produk China yang terkenal murah. "Kita tidak menutup diri dari produk China sepanjang mereka masuk dengan legal, tapi jangan sampai dengan masuknya produk China, produk kita tersaingi dengan tidak benar," ujarnya.

Karena itu, Kalla berjanji akan membantu pengusaha tidak hanya dengan suku bunga yang rendah, tapi dengan pembinaan disain dan produksi lebih baik.

Kalla juga tidak percaya dengan ekonomi liberal. Menurut dia, ekonomi liberal memang tidak pantas diterapkan di Indonesia.

"Saya tidak bicara menghadang orang luar untuk masuk ke Indonesia, tapi dengan apa yang dipersyaratkan Dana Moneter Internasional (IMF) pada 2000 lalu, telah meliberalkan produk kita semua," kata Kalla.

Jadilah kayu Indonesia diekspor tanpa batas. "Berapa pun jumlahnya,  itu sudah diekspor. Kebijakan itu saya cabut," katanya. Hal yang sama juga terjadi untuk berbagai macam produk misalnya beras.

"IMF bilang serahkan semuanya pada pasar. Saya bilang tidak, ini negara saya," kata Kalla. "Kini mereka korban teori mereka sendiri, sepuluh tahun saya lawan itu," katanya.

Kalla mengatakan seperti ini bukan menghadang asing masuk ke Indonesia. Namun, sebagai pemerintah agar menjalankan kebijakan dengan adil.

• VIVAnews
 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.