|
VIVAnews - Pemerintah mencurigai harga minyak mentah yang cenderung merangkak naik dipicu oleh penimbunan stok yang dilakukan China.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengatakan, dengan kondisi resesi ekonomi dunia yang belum pulih, seharusnya permintaan masih belum meningkat signifikan, sehingga harga minyak masih rendah.
"Ada sedikit anomali dengan kenaikan harga minyak saat ini, kecurigaan kami, tingginya harga minyak karena China menimbun, itu yang mendorong harga melambung," kata Purnomo di Kantor Dirjen Mineral Batu Bara, Jalan dr Supomo, Jakarta, Jumat 3 Juli 2009.
Menurut dia, pemerintah intensif melakukan komunikasi dengan OPEC dan Agen Energi Internasional (IEA) guna mempelajari kondisi yang terjadi.
Dengan naiknya harga minyak, pemerintah tetap berpatokan pada angka konservatif produksi dan lifting dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2009. Sebab, untuk menaikkan produksi bukan perkara mudah, apalagi lapangan-lapangan minyak tua seperti Duri milik Chevron yang menjadi andalan, mulai mengalami penurunan produksi.
"Tapi kami tetap ada rencana menaikkan produksi hingga 1,1 juta barel per hari," tuturnya.
Pagi tadi, harga minyak mentah di bursa NYMEX, New York, berada di posisi US$ 66,73 per barel setelah turun US$ 2,58 per barel. Harga ini termasuk tinggi jika dibandingkan dengan Desember 2008, yang waktu itu menyentuh harga terendah US$ 33,87, setelah pada Juli 2008 harga minyak mencapai posisi tertinggi 147,12 per barel. hadi.suprapto@vivanews.com