|
VIVAnews - Sepanjang pekan ini, indeks harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak menguat 1,72 persen dari pembukaan di level 2.040,19 menjadi 2.075,30 pada penutupan Jumat 3 Juli 2009.
"Penguatan IHSG didukung oleh faktor internal di dalam negeri seperti data inflasi Juni dan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate)," kata analis PT Panin Sekuritas Purwoko Sartono dalam ulasan pasar yang diterima VIVAnews di Jakarta, akhir pekan ini.
Pekan ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi Juni 2009 sebesar 0,11 persen dan 3,65 persen (year on year). Angka 3,65 persen tersebut turun signifikan dibanding bulan sebelumnya yang masih tercatat 6,04 persen.
"Pasar terlihat bergerak menguat mengantisipasi penurunan suku bunga," ujar dia.
Saham-saham sektor perbankan, properti, dan barang-barang konsumsi (consumer goods) menjadi sasaran transaksi investor. Namun, anjloknya harga minyak yang sempat menyentuh US$ 66 per barel menjadi sentimen negatif bagi saham berbasis komoditas.
Faktor eksternal lain yang mewarnai pergerakan indeks pekan ini adalah data manufaktur di Amerika Serikat (AS) yang mengalami kenaikan setelah sebelumnya turun.
Rekomendasi
Purwoko menambahkan, memasuki pekan pemilihan presiden (Pilpres) yang cukup krusial, IHSG diperkirakan bergerak bervariasi (mixed) atau mendatar (sideways) pada awal pekan depan.
"Investor asing dan domestik akan menahan diri. Mereka juga akan mencermati perkembangan serta kestabilan politik dalam negeri," ujar dia.
Meski demikian, beberapa saham unggulan yang sempat turun cukup tajam pekan lalu cukup menarik untuk diakumulasi.
"Secara teknikal, terlihat kecenderungan pola sideways," kata dia.
Volume perdagangan dalam tiga pekan terakhir juga terlihat terus mengalami penurunan. "Kami perkirakan indeks bergerak dalam kisaran support-resistance 2.047-2.100," ujar dia.
arinto.wibowo@vivanews.com
• VIVAnews